Wisata literasi Hingga ke Negeri Pagoda

Myanmar (wartaonline.co.id) 4/5

Redaksi wartaonline.co.id mensapatkan kiriman berita dari seorang pwgiat literasi yang sedang mengikuti lomba literasi se asia. Berikut tulisannya.

Beberapa waktu yang lalu, pada tanggal 12-14 Maret 2018, saya diundang oleh Perpustakaan Nasional RI Jakarta untuk mengikuti seleksi Pemilihan Pustakawan Utusan Indonesia untuk CONSAL (Congress of Southeast Asia Librarians) atau Kongres Pustakawan Asia Tenggarake-17 Outstanding Librarian Award.

Alhamdulillah, saya sebagai pustakawan UIN Antasari wakil dari Kalimantan Selatan terpilih sebagai Pustakawan Terbaik 1 utusan Indonesia untuk CONSAL Outstanding Librarian Award pada tanggal 2-5 Mei 2018di Naypyitaw, Myanmar sebagai tuan rumah Kongres Pustakawan se-Asia Tenggara yang diadakan setiap 3 tahun sekali dan diselenggarakan secara bergilir di masing-masing negara anggota, khususnya 10 negara ASEAN (Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Kamboja, Vietnam, Laos, Myanmar dan Brunei Darussalam) yang menjadi wadah organisasi pustakawan se-Asia Tenggara. Tema yang diangkat dalam CONSAL 2018 adalah “Next Generation Libraries: Collaborate and Connect” atau Perpustakaan Generasi Berikutnya: Berkolaborasi dan Terhubung.

Myanmar awalnya bernama Burma/Birma. Pada tahun 1989 junta militer yang memerintah merubahnya menjadi Myanmar. Inggris yang telah menjajah menyebutnya dengan Burma diidentikkan dengan orang Burman atau Bamar. Nama Myanmar berasal dari kata Mya yang artinya zamrud/mutiara. Negara ini dapaat disebut dengan zamrud Asia. Myanmar adalah sangat indah. Orang menyebut Myanmar (Burma) sebagai “Negeri Emas” atau “Negeri Pagoda Emas”, yang mempunyai 2500 pagoda.

Terkait dengan kunjungan saya dalam kegiatan Kongres Pustakawan se-Asia Tenggara di kota Myanmar tanggal 2-5 Mei 2018, ada satu hal yang sangat menarik bagi kita yang harus dibudayakan yaitu wisata literasi. Jadi wisata literasi ini merupakan wisata atau liburan yang bisa dilakukan dengan berkunjung ke toko buku, pameran buku, ke perpustakaan, taman bacaan, atau  tempat atau negara lainnya yang punyai nilai literasi.

Buku Terbesar Sedunia

Ketika kita berkunjung ke Myanmar, salah satu destinasi wisata literasi yang paling menarik adalah Biggest book in the world atau buku/kitab terbesar di dunia ada di Myanmar. Buku tersebut terdiri dari lempengan batu yang ditempatkan di dekat Kuthodaw Pagoda atau Pagoda Kutodau. Buku/kitab ini adalah kumpulan teks suci agama Buddha yang mempunyai 1460 halaman. Masing-masing halaman berupa lempengan besar marmer mengkilap, yang diukir dengan seratus baris teks, yang mempunyai ketinggian 1,5 m dan lebar 1 m serta ketebalan 12,7 cm.

Pengalaman dari orang yang pernah berkunjung melihat buku tersebut, awalnya penasaran seperti apa kiranya buku terbesar di dunia. Tentu sangat keren bisa melihat buku terbesar di dunia karena keinginan untuk melihat Alquran besar di Palembang belum kesampaian. Menurut orang yang pernah ke Myanmar, salah satu tempat yang wajib kami kunjungi di Mandalay adalah Kuthodaw Pagoda. Lokasinya pun dekat dengan Mandalay Hill.

Sederhananya bangunan Kuthodaw Pagoda dari luar dipagari tembok putih dan banyak turis yang berdatangan. Untuk masuknya pun agak ribet karena kita hanya melihat dari sisi luar hingga dengan usaha ekstra baru dapat menemukan pintu masuk Kuthodaw Pagoda.

Masuk ke dalam Kuthodaw Pagoda tidak perlu biaya administrasi, karena memang tempat ini juga menjadi tempat ibadah bagi warga lokal Myanmar. Dari luar pintu depannya mirip Pagoda dengan kiri kanannya berwarna putih. Untuk masuk harus membuka sandal/sepatu dan kaos kaki karena memang wajib hukumnya jika memasuki Pagoda/Candi di Myanmar. Udara pun cukup panas, sehingga kita harus menahan rasa panas di lantai Kuthodaw Pagoda. Namun cukup seru masuk kedalam apalagi melihat keramaian pengunjung Kuthodaw Pagoda.

Yang menarik dan sedikit heran ketika kita memandang Kuthodaw Pagoda di sepanjang perjalalan menelusuri ke dalam tidak ada tanda-tanda buku besar. Hingga kita semakin masuk kedalam Kuthodaw Pagoda tetap tidak menemukan buku besar. Akhirnya timbul rasa penasaran  kalau buku besar yang dimaksud berada di dalam Pagoda putih yang berjajar. Karena memang Pagoda putih seolah melindungi sesuatu. Selebihnya di dalam Kuthodaw Pagoda ada Pagoda dengan warna keemasan yang ditutup bungkus karena sedang direnovasi.

Ketika kita mendekat ke dalam Pagoda putih yang berjajar menghias Kuthodaw Pagoda. Dugaan ternyata benar adanya bahwa buku besar itu berada di dalam Pagoda dan berisi seperti buku dari semen dengan tulisan yang kami tidak tahu, dengan aksara Myanmar.

Memang ekpektasi tidak selalu sama dengan kenyataan. Karena kita menganggap buku gede yang bisa dibaca ternyata hanyalah semen bertulis di dalam Pagoda. Namun hal tersebut tidak mengapa, cukup menjawab rasa penasaran dan keingintahuan kita terhadap buku terbesar di dunia tersebut.

Dari cerita wisata di atas terkait dengan Kutho daw Pagoda (biggest book in the world), sangat menarik bagi kita semua bahwa sebuah pesan ilmu dapat dikemas dalam berbagai bentuk dan media yang menyimpan khazanah budaya sebuah bangsa sehingga mampu menjadi magnet atau daya tarik dunia luar untuk mengetahui negaranya. ( sob/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »