Mengenang sosok KH. Choiron Syakur Pengasuh Ponpes KH. Wahid Hasyim Bangil

Bangil (wartaonline.co.id) 27/1

KH. M. Choiron Syakur adalah salah seorang tokoh agama/masyarakat di Kabupaten Pasuruan yang lahir di Bangil pada tanggal 28 Agustus 1940. Dilahirkan sebagai anak laki-laki satunya dari 9 bersaudara  serta hidup di keluarga yang agamis, secara tidak langsung menempa beliau menjadi seorang yang agamis, bertanggung jawab dan memegang teguh prinsip-prinsipnya.

Ketika remaja beliau menimba ilmu di Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta yang waktu diasuh oleh KH. Ali Ma’sum. Selama di pesantren beliau diberi amanah menjadi pengurus serta menjadi guru ngaji di kampung sekitar Krapyak. Beberapa jabatan keorganisasian diembannya, sebagian diantaranya adalah pengurus IPNU dan Ansor di Yogyakarta. Pola pikir serta gerak organisasi beliau diinspirasi oleh Alm. KH. Ali Ma’sum.

Pada usia 24 tahun, beliau terpaksa harus boyong dari pondok dikarenakan ayahandanya yaitu KH. Abd. Syukur Marzuki wafat. Kecintaan akan Nahdlatul Ulama mendorongnya untuk melanjutkan berorganisasi di kota kelahirannya. Hingga akhir hayatnya, beberapa jabatan pernah disandangnya baik di tingkat Pengurus Cabang, Pengurus Wilayah maupun PBNU.

KH.M. Choiron Syakur lebih cenderung menggeluti ke dunia pendidikan yang mana menurut beliau “pendidikan adalah penentu masa depan bangsa”. Ide dan terobosan memajukan dunia pendidikan tidaklah sedikit. Salah satunya adalah merintis Perkemahan Penggalang Ma’arif (PERGAMA) yang menjadi embrio kegiatan Jelajah Santri saat ini.

Aktivitas di NU yang tinggi, menjadikan beliau akrab dan familier dengan Alm. KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Saking akrabnya, Gus Dur memanggil beliau dengan panggilan “Cak Ron”. Visi dan pola pikir moderat yang dimiliki Gus Dur mengilhami KH.M. Choiron Syakur.  Tak jarang wacana dan ide beliau yang jauh kedepan dianggap kontroversial.

Loyalitas terhadap NU terlihat dalam upaya perjuangan beliau dalam menginisiasi pendirian lembaga pendidikan Maarif di Bangil, Gempol, Pandaan dan banyak lainnya. Bukan hanya bidang pendidikan, beliau juga turut berpartisipasi pendirian Rumah Sakit Islam berbasis NU di Sidoarjo dan Surabaya. Ketika mengemban amanah sebagai Ketua PW LKKNU Jatim, beliau mendistribusikan bantuan peralatan kesehatan ke RS, klinik atau Balai Pengobatan yang berafiliasi dengan NU ke daerah-daerah.

Semasa  didapuk sebagai Penasehat Maarif PBNU, beliau menginisiasi terbentuknya lembaga asesor Madrasah Kab. Pasuruan yaitu Dewan Akreditasi Madrasah yang bekerjasama dengan Kemenag dan Kemendiknas Pasuruan. Bersamaan dengan hal itu, beliau mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Pendidikan Pasuruan.

Tak hanya bidang pendidikan dan kesehatan, semenjak tahun 2000-an beliau getol menyuarakan gagasan memindahkan Ibukota kabupaten Pasuruan dari Kota Pasuruan ke Bangil.

Dan bersamaan dengan Peringatan Hari Jadi Kabupaten Pasuruan ke 1087, Ibu Nyai Hj. Siti Aisyah mewakili keluarga KH. M. Choiron Syakur untuk menerima Penghargaan Pencetus dan Perintis Tim Supporting Pemindahan Ibukota Pasuruan ke Kota Bangil dari Bupati Pasuruan.

Riwayat jabatan dan organisasi KH.khoiron Syakur semasa Hidup :

Pengurus IPPNU dan Ansor PCNU Yogyakarta

Sekretaris Ansor PCNU Bangil

Ketua Pengurus PCNU Bangil

Ketua PW LKKNU Jatim

Ketua PW LDNU Jatim

Penasehat PB LKKNU Jatim

Penasehat Maarif PBNU

Ketua Dewan Akreditasi Madrasah Kab. Pasuruan

Ketua Dewan Pendidikan Kab. Pasuruan

Rois Syuriyah MWC NU Bangil

Wakil Rois Syuriyah PCNU Bangil.

Hadiri dan doa bersama pada acara khoul ke 2 pada hari minggu tanggal 11 Februari 2018 di ponpes KH. WAHID HASYIM BANGIL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »