Sarung Identitas kaum Santri

Sarung: Identitas kaum Santri
Yoyok Amirudin

Pagi ini saya berangkat ke kantor memakai sarung, banyak orang, teman, dan mahasiswa saya bertanya “Kenapa pak, memakai sarung?” sepontan saya jawab ”ikut memperingati hari santri, identitas santri terlihat kalau pakai sarung. KH. Marzuqi Musytamar kalau ngajar di UIN Malang itu memakai sarung”.
Bagi saya sarung itu disamping higienis, praktis juga isis. Konon sarung dipakai pertama kali oleh suku badui yang tinggal di Yaman dan sarung masuk ke Indonesia pada abada ke-14. Seiring waktu berjalan sarung menjadi salah satu pakaian kehormatan dan menunjukan nilai kesopanan yang tinggi.

Akhir-akhir ini sarung menjadi tradisi RI-1 ketika berkunjung ke sebuah pondok pesantren. Penulis teringat KH. Abdul Wahab Hasbullah ketika di undang oleh presiden Soekarno, beliau tetap dengan sarungnya.

Dalam buku Sarung dan Demokrasi yang dikeluarkan tim PW LTN NU Jawa Timur menjelaskan begitu banyak peran kaum sarung (santri) dalam membangun peradaban ke-Indonesia-an. Baik bidang ekonomi, politik, budaya, dan pendidikan.

Sudah saatnya santri menjadi garda terdepan dalam setiap perubahan untuk jihad kebangsaan. Sebagaimana yang sudah diplokamatori oleh Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari dengan seruan jihad memperjuangkan Negara Indonesia. Musuh bangsa ini adalah kemiskinan, kebodohan, korupsi, kekerasan dan faham takfiri (pengkafiran).

Santri hadir dalam kurun waktu kedepan akan menjawab itu semua. Ribuan pondok pesantren tersebar ke pelosok negeri bukti santri membangun peradaban Indonesia dengan pendidikan karakter (akhlaq), ekonomi pesantren, ajaran tasamuh, kejujuran. Santri juga mewarnai persepakbolaan Indonesia, sebut saja Rafli, striker timnas terlahir bakatnya dari Liga Santri Nasional. Kalau ada yang bertanya “itu para pejabat yang santri ada yang korupsi, bagaimana?” Andaikan ada santri terjun di dunia politik dan melakukan korupsi ada yang salah dalam pendidikannya dulu.

Untuk membumikan tradisi kaum santri, mari bersama memakai sarung. Lebih-lebih sekarang momen hari Santri nasional. Budayakan ngantor pakai sarung.

Penulis pun tidak merasa malu ketika naik gojek sarungan, masuk mall sarungan, masuk kantor sarungan, naik bus sarungan, apalagi tidur malam fardhu ain sarungan.

Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Al Islam Joresan Ponorogo
Tinggal di Malang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »