SMPN 11 fasilitasi pertemuan FKUB kota Pasuruan

 Pasuruan  (Wartaonline.co.id) 10/9

 Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan bersama dalam rangka menyikapi pengaruh global krisis kemanusiaan yang terjadi di Rohingya, Myanmar, maka Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) memfasilitasi dialog lintasagama dengan tujuan untuk mencari formula dan membuat kesepakatan bersama demi perdamaian dan kondusivitas wilayah di Kota Pasuruan tercinta. Pertemuan ini informal ini diadakan di SMP Negeri 11 Pasuruan, Jumat, (8/9).

 Acara yang bertujuan mencari titik temu dan menciptakan perdamaian ini dihadiri oleh Ketua FKUB, Drs. H. Ali Iqbal, M.Pd.I, Vihara Maitreya, Pendeta Hamono, dari Klentheng, Bapak Hartono, tiga intel dari Polresta sebagai saksi aksi damai, wakil dari Konghucu, Kaosing Yudi Dharma, dan kepala SMPN 11, Agus Harianto, S.Pd., M.M.

 Dalam pertemuan ini disikapi bahwa semua pihak akan menjaga kondusivitas wilayah dan perdamaian di Kota Pasuruan. Untuk itu, pasca pertemuan ini semua pihak, khususnya pengurus FKUB), akan mengeluarkan deklarasi bersama yang intinya tetap menjaga keamanan bersama. Hal ini ditegaskan oleh Ketua FKUB, Drs. H. Ali Iqbal, M.Pd.I.

 “Pertemuan yang baik ini adalah jalan yang bijak untuk mencari solusi bersama agar tidak terjadi gejolak yang tidak diinginkan bersama. Saya percaya, pertemuan ini akan menghasilkan kesepakatan kolektif antarpengurus FKUB dan segera ditindaklanjuti, “ kata Ali

 Sementara itu, Pendeta Harmono menyikapi dalam sisi kemanusiaan. Ia mengatakan bahwa segala peristiwa hendaknya dilihat dari beragam sisi agar bisa mencapai solusi bijak. Ia percaya pertemuan informal ini akan menjadi embrio perdamaian di Kota Pasuruan. Hal senada juga disepakati oleh Hartono dari Klentheng.

 Pertemuan yang diadakan di ruang kepala sekolah mulai pukul 08.30 dan berakhir pukul 11.00 menghasilkan beragam kesepakatan bersama, yaitu: perlunya tatap menjaga persatuan dan kesatuan, perlunya memberi pemahaman kepada semua pemeluk agama, perlunya melakukan tindak lanjut pertemuan: melakukan deklarasi bersama, dan selalu menyebarkan rasa kemanusiaan yang tinggi melalui gerakan-gerakan teologi sosial demi kemaslahatan umat.

 Dengan terselenggaranya pertemuan informal ini diharapkan akan mencapai titik temu untuk menciptakan persatuan dan kesatuan di Kota Pasuruan. Sebelum meninggalkan SMPN 11, Ali mengingatkan kembali agar semua pihak, khususnya umat Islam dan Budha di Kota Pasuruan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang kurang bertanggungjawab agar tidak terjadi permusuhan yang berkelanjutan.

 Apa pun realitasnya, sejarah telah mencatat SMPN 11 Pasuruan menjadi tempat bersejarah atas terjalinnya harmonisasi antara umat Islam dan Budha. Semoga kemesraan ini bisa ditindaklanjuti dalam aktivitas kemanusiaan lainnya dengan harapan bisa menyejahterakan rakyat pada umumnya. (Gus/Sob)   

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »