Lagi, Alumni UMM malang surati mendiknas Terkait 5 Hari Sekolah

Malang (wartaonline.co.id) 13/6

Protes terhadap rencana mendiknas akan memberlakukan 5 hari jam belajar kini mulai berdatangan. Setelah guru Asal pasuruan kini Alumni universitas Muhamadiyah Malang (UMM) muhamad Alwi.

Berikut surat yang ditulis di media sosial yang di kutif oleh wartaonline.c.id.

Salam..Buat Pak Mentri Pendidikan…..
Sekolah Senin-Jum’at

Pak Muhadjir yang baik, saya kenal bapak cukup lama, sebab saya adalah alumi Universitas Muhammadiyah Malang, dan ijazah S1 saya bapak yang menandatanganinya. Saya dulu sering bertemu bapak saat bapak menjadi PR-3. Ada sedikit uneg-uneg saya yang ingin saya sampaikan pada bapak yang sekarang menjabat sebagai mentri pendidikan dan akan mengeluarkan kebijakan sekolah mulai Senin sampai Jum’at dengan waktu sekolah 8 jam/hari.

Saya yakin banyak pertimbangan yang mungkin dilakukan atau dikaji, misalnya sebagai orang yang bukan pakar saya bisa membayangkan; 1) Dengan kerja 8 jam/hari (5 hari kerja), maka guru akan sama bebannya dengan pekerja lainnya, sehingga perhitungan pengajian bahkan UMR bisa dihitung dengan kesetaraan-kesetaraan lainnya. Sebab ada ketimpangan cukup serius antara penggajian guru utamanya swasta non sertifikasi.

Saya pernah wacanakan itu …/umr-guru-sebagai…/ 2) Dengan kebijakan itu akan sama antara pegawai umumnya yang libur sabtu-minggu dengan anak-anak sekolah dan guru (sehingga kebersamaan dan lain-lain) akan lebih enak dan sama. 3) Toh dengan 8 jam/hari (5 hari/minggu), itu totalitas bebannya sama dengan sebelumnya yang 6 hari sekolah (sama-sama sudah mencapai 40jam/minggu). 4) Masa libur sabtu-minggu yang sama, maka akan menjadikan refreshing cukup, bersama keluarga, bahkan tempat hiburan dan lain-lain mungkin meningkat dst. Dan mungkin banyak pertimbangan-pertimbangan lainnya yang jelas mereka sudah memikirkan.

TAPI…Pak Mentri apakah sudah dipikirkan hal-hal yang lain seperti :

Pertama, Dengan pulang jam 15.00 setiap hari, maka anak-anak akan sampai dirumah jam 15.30 atau jam 16.00. Lalu bagaimana dengan TPQ sore yang biasanya anak-anak kami mengaji? Anak-anak itu biasanya sampai rumah jam 13.00 atau 13.30 lalu istirahat, dan jam 15.00 atau 15.30 mereka mengaji. Mungkin ada yang berkata: itu bisa dimasukkan di sabtu atau minggu. Kalau argumentasinya seperti itu, maka target 3 dan 4 diatas tidak terpenuhi.

Kedua, Banyak pakar pendidikan mengatakan bahwa 1 jam/hari selama 6 hari, itu jauh-jauh lebih efektif dari pada 6 jam/hari x 1 hari atau bahkan 3jam/hari x 2 hari (walaupun totalnya sama).

Ketiga, TPQ adalah fondasi yang cukup serius untuk membelajarkan anak-anak mengenal al Qur’an dan memahami sedikit-sedikit keberagamaan sejak dini (usia SD). Terus terang dengan adanya methode belajar mengenal al qur’an/mengaji sekarang anak-anak kita lebih cepat bisa membaca al Qur’an dibanding 20 tahun sebelumnya.

Keempat, mungkin ada wacana. Belajar TPQ atau agama lainnya bisa dimasukkan dalam pelajaran sekolah yang 8 jam diatas? Ini bertentangan dengan asumsi sebelumnya. Sebab asumsinya 40 jam/minggu itu sama dengan sekolah sebelum-seelumnya yang senin sampai sabtu (artinya pendidikan TPQ dan seterusnya tetap diluar jam sekolah).

Sekali lagi Pak Mentri, saya pendidik walaupun bukan pakar pendidikan, tetapi saya melihat apakah hal-hal seperti itu sudah dipikirkan?

Terima kasih, salam hormat saya
Muhammad Alwi

Di kutif oleh mohamad sobari ( sob/red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »