Ribuan Jamaah NU Istighosah menggetarkan langit Sidoarjo

Sidoarjo (waraonline.co.id) 10/4

Pelaksanaan acara istighosah kubro di stadion sidoarjo jawa timur kemarin berjalan lancar dan menggema. Acara istighosah ini atas Keprihatinan para kiai NU atas ujian yang dihadapi bangsa Indonesia akhir-akhir ini membuat warga nahdliyyin terpanggil untuk mengetuk pintu langit, menggapai nurullah.

NU adalah salah satu organisasi keagamaan terbesar di indonesia yang tersebar di seluruh plosok tanah air. Untuk mengajak masyarakat nu yang ada di jawa timur agar tidak tinggal diam atas persoalan yang terjadi di Negeri Indonesia, meskipun terkadang dalam implementasinya, NU sering menjadi pemain tunggal dalam menjaga kerukunan. Tidak jarang juga NU difitnah dan diserang oleh kelompok diluar NU yang membid’ah-bid’ahkan tahlilan, istighotsahan.

Namun, lagi-lagi NU harus kembali menjadi penjaga gawang Negeri ini dari ancaman perpecahan akibat pecah belah oleh kelompok radikal dan khilafah.

Ratusan ribu nahdliyyin Jawa Timur memadati Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Ahad 09 April 2017 pagi melakukan istighotsah kubro sebagai upayah untuk menangkal faham-faham yang anti NKRI, kesejahteraan umat dan keselamatan bangsa.

Dalam pelaksanaan istghosah ini di hadiri oleh warga nahdliyin dari berbagai pelosok di jawa timur. Sebelum acara di mulai H. Ahsanul Hag ketua panitia membuka acara. Acara demi acara berlangsung kemudian dilanjutkan berdoa yang dilakukann oleh kyai kyai khos secara bergantian.

“Tak ada muatan politis dalam acara isthighosah ini, istghosah murni kegiatan keagamaan ” kata ketua PWNU Jatim KH. Hasan Mutawakkil Alallah 09 April 2017 dihadapan ribuan warga nahdliyin stadion sidoarjo.

Istighotsah tersebut murni muhasabah, mendekatkan diri kepada Allah SWT. Berdoa untuk kesejahteraan umat dan keselamatan bangsa Indonesia.

“Karena doa merupakan senjata bagi orang-orang mukmin dalam menghadapi apapun,” kiai Mutawakkil dalam sambutannya.

Istighotsah itu dihadiri oleh para kyai pondok pesantren di Jawa Timur seperti;
1. KH. Ma’ruf Amiin, Rais Syuriyah PBNU dan Cicit Syai Nawawi Banten.

2. KH. Zainudin Jazuli, Putera dari KH. A. Jazuli (Gus Miek) Al Falah Ploso Kediri.

3. KH. Nurul Huda Jazuli, Putera dari KH. A. Jazuli (Gus Miek) Al Falah Ploso Kediri.

4. KH Anwar Manshur, Cucu dari KH. Abdul Karim Lirboyo Kediri.

5. KH. Anwar Iskandar, Ponpes Al Amin Ngasinan, Rejomulyo Kediri.

6. KH Miftahul Akhyar, Wakil Rais ‘aam PBNU santri KH. Masduqie (Macan Lasem).

7. KH Nawawi Abdul Jalil, Ponpes Sidogiri.

8. KH. Azaim Ibrahimy, Cucu dari KHR. As’ad Syamsul Arifin, Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.

9. KH. Agoes Ali Masyhuri, Ponpes Bumi Sholawat Sidoarjo.

10. Ra Kholil KH. Mohamamd Kholil As’ad Ponpes Wali Songo, Kelurahan Mimbaan, Kecamatan Panji, Kabupaten Situbondo putera dari KHR. As’ad Syamsul Arifin.

11. KH. Hasan Mutawakkil Alallah,ketua pwnu jawa timur.

Suasana istighosah awalnya panas kini menjadi redup dan tidak panas. Hal ini dirasakan oleh kang sobari yang mengikuti acara hingga selesai. Saat duduk dilantai stadoin tidak terasa tempat yang dia duduki mengelupas alasnya atau (jawa:nglothok ) sandal dan kskinya melekat di lantai stadoin.saking khusuknya dalam berdoa saat ini tidak terasa haus dan lapar. Begitu juga dikuti oleh jamaah sebelahnya.

Dr.KH. mutawakil allallah ketua PWNU Jatim yang juga pengasuh Ponpes Zainul Hasan, Genggong itu menjelaskan Istighosah adalah bagian dari peran para kiai untuk mendoakan bangsa, dengan harapan agar tetap rukun dan lebih sejahtera. (Sob/tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »