Kyai Abdul Karim Pembawa Organisasi NU ke Pasuruan

Oleh : kang sobari

Kyai abdul Karim Bin muhammad Toyib bin Qodli bin Khowarizmi adalah sosok kyai yang alim dilahirkan di Desa Bendungan kecamatan Kraton pada tahun 1303 H / 1885 M. Untuk tanggal dan hari kelahirannya banyak yang tidak tahu. Menurut penuturan Gus Hidayat keturunan kyai Abdul Karim beliau sejak kecil berguru kepada ayahnya. Pada usia 13 tahun menhafal kitab aqidatul awam kemudian di antarkan ayahnya untuk mondok di pondok pesantren Genthong di bawah asuhan kyai Abdul Ghofur, seorang kyai sepuh dengan seangkatan dengan kyai Kholil Bin Abdullatif Bangkalan.

Setelah mondok di pesantren genthong dia belajar dengan kyai ke pondok pesantren Kholil Bangkalan setelah selsai mondok di bangkalan dia melanjutkan belajar ke Khozin Panji Sidoarjo, kemudian melanjutkan ke Ponpes Di Tebu ireng Jombang menjadi santri KH. Hasyim Asy’ari bahkan dia di jadikan pengganti Kyai Hasyim Asy’ari ketika berhalangan mengajar.

Kyai Abdul karim tidak prnah puas dengan ilmu yang diperoleh dari para kyai besar namun dia memilih belajar keluar negeri yakni di mekah. Setelah selama 9 tahun belajar dimekah di suruh pulang untuk di jodohkan karena calon istrinya meninggal sehingga ia kembali ke mekaah lagi selama 3 tahun. Setelah belajar di mekah selama 12 tahun dia mempelajari kitab Ihya’ ulumudin karya imam Ghozali mendekati hafal diluar kepala.

Setelah pulang dinikahkan dengan gadis bernama Shofiyah Binti H. Abdul fattah dari Kota Pasuruan. Setelah berumah tangga belau tinggal di kota Pasuruan pada tahun 1336 H. Kemudian menggelar pengajian pengajian dari masjid ke masjid terutama di masjid jami’ Al Anwar Kota Pasuruan. Banyak jamaah yang ikut mengaji baik dari umum maupun kyai lain yang ikut mengaji. Singkat cerita kyai abdul karim bertemu bersama Habib Alwi Assegaf dari Hadramaut kemudian menjadi gurunya. Setelah berteman dan sekaligus menjadi gurunya Kyai Abdul Karim membangun rumah didaerah bendungan dan kemudian mendirikan Pondok pesantren Kramat .

Mengenai kealiman kyai Abdul Karim diakui oleh para ulama dan habaib dizamannya. Diantaranya di ceritakan oleh KH. Saifulloh Jufri saat pengajian setelah selasai ada sesi tanya jawab ada pertanyaan yang di kira tidak akan mampu menjawab soal perempuan sehingga dia mampu menjelaskan bahkan dengan gamblang yang penanya terkagum padahal tidak ada persiapan sebelumnya. Inilah keistimewaan kyai Abdul Karim.

Menurut cerita Habib Sholeh bn Abdul Karim Al Habsy bahwa kyai Abdul Karim semasa hidupnya terus berdakwah dari masjdi ke masjid dan memperagakan gerakan sholat diaatas panggung.ada sekitar 38 masjid yang didirikan di wilayah pasuruan, seperti daerah Tambaan kota pasuruan, Masjid Bukir, kebon agung, Desa selo tambak Kraton, desa Arjosari kraton, desa sungi kulon dan Pohjentrek.

Ketika KH. Hasyim Asy”ari mendirikan organisasi Nahdalatul Ulama (NU) Kyai Abdul Karim mendapatkan tugas langsung untuk mendirikan NU di Pasuruan. Dengan mengajak para kyai untuk membentuk ada diantara kyai yang tidak mau gabung dengan NU karena bukan murid kyai Hasyim Asy’ari. Sehingga NU bisa diterima oleh kyai dan akhirnya berkembang hingga sekarang. Kyai Abdul Karim juga salah satu kyai yang ikut perang kemerdekaan dan di tugasi mengembleng pasukn Hisbullah dan sabilillah dan ada beberapa kyai yang di tangkap oleh belanda tetapi tetap gigih dan jika belanda ingin menangkap selalu gagal.

Berikut putra putrinya Kyai Abdul Karim yang menikah dengan Hj. Shofiyah sebagai berikut

1 . KH. M. Thoyib pengasuh ponpes Kramat kraton pasuruan
2. M. Abdul Fatah wafat sebelum menikah
3. Nyai Hj. Marfu’ah istri Kyai Jufri
4. KH. Ahmad pendiri Ponpes Darul Ulum Pacar keling Kejayan
5. KH. M. As’ad Pengasuh Ponpes Kramat
6. M. Thoha wafat masih kecil
7. KH. M. Munif, pendiri ponpes Darul Karomah Gunung Jati Kramat
8. Nyai Hj. Mardiyah istri KH. Sufyan Kramat
9. Asyyatusoffa wafat masih kecil.

Kyai Abdul Karim tidak mau di foto saat ada photo grafer mencuri memotret fotonya tidak pernah jadi bagus dan memang tidak suka di foto katanya. Beliau wafat pada hari Senin tanggal 12 Dzul-Hijjah tahun 1369 Hijriyah bertepatan tanggal 25 setember tahun 1950 Masehi beliau di besar makamkan di komplek pemakaman keluarga Bani Thoyib di Bendungan Kraton Pasuruan jawa Timur. ( subari penulis cerita ini dari cerita gus dayat dan sebagaian diambil dari buku mutiara terpendam yang di terbitkan oleh Cipta pustaka Utama ]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »