Revitalisasi smk menuju kemandirian pendidikan

JSurabaya (wartaonline.co.id) 22/12

Pendidikan yang sedang dilakukan di negeri ini masih dalam pencarian format yang tepat. Sehingga sistem pendidikan kita berada di persimpangan jalan, sehingga perlu mencari solusi dan format kurikulum yang pas sesuai kurikulum yang di butuhkan oleh pemakai baik lembaga maupun perusahaan. Sampai saat in belum mampu menjadikan anak didik mandiri. Untuk menjawab hal itu  Rabu (21/12/16), Ikatan Alumni (IKA) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menggelar Forum Group Discussion (FGD) Rekonstruksi Sistem Pendidikan Indonesia.

Bertempat di Gedung Gema UNESA, FGD yang melibatkan pakar pendidikan, Dinas Pendidikan, kepala sekolah, guru, komite sekolah, ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), pemerhati serta praktisi pendidikan dan dewan pendidikan se-Jatim, ini menyorot empat hal, penguatan pendidikan karakter, full day school, ujian sekolah berorientasi nasional dan Revitalisasi SMK. Kegiatan ini sekaligus untuk memperingati Dies Natalis ke-52 UNESA.

“Saya berharap, melalui acara ini bisa lahir gagasan besar dalam pendidikan untuk pembangunan bangsa Indonesia,” demikian disampakan Prof Dr Warsono MS, Rektor UNESA kepada peserta forum discusi

Menurut muklas samani mantan Rektor Unesa “pendidikan kita belum mampu membuat anak didik mandiri. Padahal, mestinya, itulah yang diutamakan. kita tertinggal dengan negara negara tetangga. ” katanya.

Diskusi Yang di bahas salah satunya tentang revitasisasi smk ini menjadi penting karena saat ini pendidikan smk diharapkan bisa memiliki skill dan bisa kerja. Tetapi kenyataanya  masih banyak pengangguran . Inilah yang perlu menjadi perhatian dan pekerjaan bagi pendidik dan lembaga pendidikan untuk mencari solusinya.

Subari guru smkn 1 Bangil Pasuruan mengatakan “kita perlu menekankan menjadikan anak didik bisa mandiri  dan perlu memberikan pendidikan karakter. Kalau tidak maka pendidikan kita akan hancur karena ejak dini yidak di tanamkan kejujuran .sopan santun dan keimanan serta keahlihan ,

Sementara, pengarah FGD, Heru Subagyo mengatakan, selama ini bangsa Indonesia lebih mengagungkan materi. Nilai kehidupan tidak dipedulikan lagi. Oleh sebab itu sangat diperlukan penguatan pendidikan karakter.

Masih menurut Heru — yang dikenal sebagai pengamat pendidikan — kita sekarang dihadapkan dengan wacana full day school. Padahal kondisi ekonomi masyarakat pendapatan per kapitanya rendah. Full day schoolmembutuhkan biaya yang tinggi. Ini tidak cocok dengan kenyataan.

Heru kemudian membeber fakta yang diamati. Bahwa di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) misalnya, banyak permasalahan setelah diimplementasikannya Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Di antaranya adalah dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Akhirnya dunia industri sendiri kurang berminat menerima tenaga kerja lulusan SMK.

Maka, saran Heru, revitalisasi pendidikan SMK harus dilakukan. Usaha-usaha untuk memajukan pendidikan SMK, orientasinya harus kebutuhan bukan kepentingan semata.

“Selain itu perlu diingat kembali bahwa ada dua mazhab dalam pendidikan di dunia. Pertama orang sekolah untuk bekerja, kedua orang sekolah untuk menjadi pintar,” terangnya.

FGD IKA UNESA ini, diikuti 52 peserta, dibagi tujuh kelompok diskusi. “Dari tim perumus nanti akan dilakukan pengkajian ulang. Selanjutnya akan diterbitkan rekomendasi yang ditujukan kepada semua pihak, utamanya yang hadir di sini,” pungkas Prof Dr Luthfiyah Nurlaela MPd, ketua pelaksana. (Sbv)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »