guru pembelajar

RELEVANSI GURU PEMBELAJAR TERHADAP

PENINGKATAN KINERJA GURU

OLEH:

ROLIS AWANG WIDODO, S.Si

Pendidikan adalah suatu upaya meningkatkan pengetahuan dan karakter seseorang menjadi lebih baik. Pendidikan mempunyai peran penting dalam meningkatkan mutu SDM (sumber daya manusia). SDM negara kita dapat bersaing dengan negara lain pada era globalisasi, jika pendidikan di negara kita berlangsung sukses. Kesuksesan dunia pendidikan tidak lepas dari guru sebagai peran utamanya.

Guru merupakan komponen paling menentukan dalam sistem pendidikan secara keseluruhan, yang harus mendapat perhatian sentral, pertama, dan utama. Guru sebagai sosok yang utama yang digugu (didengar, diperhatikan, dan dilaksanakan) ucapannya ditiru (diteladani) perilakunya adalah cermin mulianya profesi seorang guru. Gurulah yang mencerdaskan bangsa ini dengan ilmu pengetahuan yang dikuasai dan keluhuran budi yang ditampilkannya.

Figur yang satu ini akan senantiasa menjadi sorotan strategis ketika berbicara masalah pendidikan. Guru juga sangat menentukan keberhasilan peserta didik, terutama dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar. Menurut Prof. Dr. Dedy Mulyasana, M.Pd dalam Ma’mur (2015) menyatakan bahwa guru yang baik adalah guru yang pintar dan mampu memintarkan anak didik, guru yang berkarakter dan membentuk karakter anak didik, guru yang menjadi teladan dan mempunyai integritas dan mampu menjadikan anak didik sebagai sosok teladan dan layak diteladani, dan guru yang mampu menyampaikan konsep dan teori ilmu pengetahuan, tapi juga mampu membantu kesulitan belajar anak didik.

Guru sebagai pengajar diharuskan menguasai bidang ilmu yang diajarkan secara profesional. Untuk mencapai profesionalitas, guru harus selalu mempelajari dan mengembangkan ilmu yang diajarkan. Guru tidak boleh pasif akan tetapi harus proaktif dalam mencari sumber ilmu. Guru tidak hanya sebagai pengajar melainkan sebagai pendidik pula.

Menurut Anies Baswedan dalam sambutannya pada upacara peringatan hari Guru Nasional yang bertema “Guru Mulia karena Karya” (25/11/2015) di Jakarta, mengajak para guru Indonesia untuk sama-sama menunjukkan pada bangsa Indonesia bahwa guru Indonesia adalah guru pembelajar yang terus belajar dan mengembangkan diri. Guru selalu hadir sebagai pendidik dan mengirimkan pesan harapan terhadap generasi bangsa ini menjadi teladan karena ketangguhan, optimisme dan keceriaannya.

Guru pembelajar merupakan guru yang terus menerus belajar untuk meningkatkan kompetensinya disetiap saat demi kemajuan dunia pendidikan. Dengan guru mengembangkan diri dan terus belajar akan menciptakan generasi pembelajar yang berkontribusi untuk generasi penerus bangsa.

Untuk melaksanakan program tersebut, pemerintah melakukan pemetaan kompetensi melalui Uji Kompetensi Guru (UKG) di seluruh Indonesia sehingga dapat diketahui kondisi real guru dan kebutuhan peningkatan kompetensinya. Berdasarkan hasil UKG pada tahun 2015, nilai rata-rata nasional yang dicapai sebesar 56,69. (Sumber Data : UKG 2015 Ditjen GTK)

Dengan hasil nilai rata-rata nasional tersebut, pemerintah harus bekerja keras mengejar target yang ditetapkan pada tahun 2016 yaitu sebesar 65 dan tiap tahunnya target mengalami kenaikan. Progam guru pembelajar ini adalah upaya dalam meningkatkan kompetensi guru.

Begitu banyak pertanyaan yang muncul dari kegelisahaan para guru dengan meluncurnya progam guru pembelajar tersebut. Mau dibawa kemana arah progam guru pembelajar yang langsung turun dari pusat? Apakah hanya sebuah proyek yang tidak berkelanjutan? Bagaimana dengan esensi program guru pembelajar terhadap kinerja guru di sekolah?. Dilema program guru pembelajar mulai melanda sehingga muncul antara peningkatan kompetensi dan kewajiban sebagai pendidik.

Progam guru pembelajar menuai pro dan kontra terhadap pelaksanaannya di lapangan.  Beberapa hasil jajak pendapat yang saya lakukan selaku mentor/IN (Instruktur Nasional) melalui media sosial kepada para guru pembelajar, mentor dan guru lain menghasilkan sebagai berikut:

Progam guru pembelajar dapat meningkatkan kompetensi dan wawasan serta keterampilan guru.
Guru bisa meningkatkan kualitasnya sebagai guru profesional yang dapat diimplementasikan kepada anak didiknya di sekolahnya masing-masing.
Guru dapat merefresh pengetahuannya melalui progam tersebut.
Guru dituntut untuk senantiasa belajar dan melek IT walaupun menjelang pension.
Dalam pembelajaran moda daring, guru dapat mengembangkan ide-ide atau gagasan serta diajak berpikir lebih dalam, berdiskusi, dan membagi pengalaman dengan sesama guru pembelajar.
Pada daerah tertentu, sebagian besar guru meninggalkan jam mengajar dalam menyelesaikan tugas belajarnya.
Manfaat progam guru pembelajar terhadap guru dan peserta didik yang bersangkutan belum nampak.
Bertambahnya tugas tambahan bagi guru yang harus dikerjakan.
Berkurangnya konsentrasi terhadap peserta didik saat memberikan pelajaran karena masih memikirkan tugas yang belum terselesaikan.
Pada guru yang masih honorer/yang belum sertifikasi membutuhkan biaya tambahan dalam berdaring/online.
Bagi SMK membutuhkan progam guru pembelajar yang menitik beratkan pada ketrampilan bukan teori saja.

Secara konsep progam guru pembelajar sangat bagus, utamanya pada ranah mengubah paradigma cara berpikir seorang guru. Namun dalam pelaksanaan dan pengawalannya kurang optimal. Sistem pendidikan wilayah dan daerah cenderung pasif dan P4Tk (Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan) sendiri tidak menjangkau sampai ke sasaran.

Progam guru pembelajar ini masih menitikberatkan pada pencapaian kognitif saja, yang ujung-ujungnya kinerja guru yang diukur secara nasional melalui UKG saja. Seorang guru membutuhkan bagaimana cara menyampaikan materi yang baik, menyiapkan perangkat pembelajaran yang bagus, penilaian, analisis, serta mekanisme pembelajaran yang benar. Peserta didik membutuhkan keteladanan dari seorang guru. Tanpa keteladanan, guru hanya akan jadi buah bibir bagi peserta didiknya sehingga tidak akan didengar ucapannya. Hal ini akan menjadikan lonceng kematian dunia pendidikan yang satu diantara tugas guru adalah mengarahkan moralitas peserta didik ke arah yang lebih baik.

Kesuksesan peserta didik lebih banyak ditentukan oleh pendidikan karakter/ “pencitraan” seorang guru dihadapan peserta didiknya. Menurut UU (Undang-Undang) Guru dan Dosen nomor 14 tahun 2005 pasal 10, guru adalah seorang pendidik  akan tetapi faktanya kebanyakan masih dalam taraf mengajar saja. Setelah mengajar langsung pulang, atau santai di warung. Yang lebih miris lagi di sekolah-sekolah yang jauh dari perkotaan, yang penting siswanya dapat nilai bagus (entah bagaimanapun caranya memperoleh nilai tersebut) maka itu dianggap berhasil.

Pendidik itu tugasnya mendidik. menurut KBBI (Kamus Besar Berbahasa Indonesia) mendidik artinya ceria, melatih, membimbing, memelihara, menempa, mengajar, mengarahkan, mengasuh, menggembleng, menggodok, menjaga, dan menuntun. Jadi tugas utama seorang guru adalah sebagai pendidik yang mempunyai tugas membentuk karakter positif peserta didik dan guru harus mampu menjadi sumber inspirasi peserta didik supaya tergerak jiwanya untuk belajar keras dalam rangka meraih cita-citanya dengan penuh optimis.

Dengan adanya progam guru pembelajar yang sudah terkoordinir dengan baik antara pihak yang terkait. Manfaat yang dapat kita ambil adalah menghasilkan suatu perubahan perilaku guru yang secara nyata dapat meningkatkan kompetensi, wawasan keilmuan, serta karakter  yang baik. Sehingga tidak hanya terpaut pada teori saja melainkan ketrampilan dan teknologi (khususnya pada SMK). Seorang guru merupakan kunci keberhasilan untuk mendukung prestasi belajar peserta didiknya. Guru yang profesional dituntut mampu membangun proses pembelajaran yang baik sehingga dapat menghasilkan pendidikan yang berkualitas.

Namun, kita sebagai guru harus pandai-pandai membagi waktu untuk mengikuti progam guru pembelajar, dan melaksanakan kewajiban pembelajaran kepada peserta didik agar tidak ada salah satu yang terbengkalai. Guru harus belajar terus menerus agar dapat mengajar dengan baik, tidak kembali ke belakang dan tidak menyalahkan tuntutan yang berlebihan. Sebagai pendidik, guru harus siap untuk membangun otoritas ilmu secara optimal dengan selalu belajar sepanjang hayat demi masa depan pendidian yang lebih cerah.

Pada hakikatnya, pendidikan adalah memanusiakan manusia atau proses mendewasakan manusia menjadi lebih baik dari sebelumnya. Semua program pada dasarnya baik dan tepat sasaran karena disusun berdasarkan analisis kebutuhan yang tajam, mendesak dan prioritas. Guru Pembelajar sebagai satu diantara cara untuk memenuhi standar kompetensi guru sesuai dengan tuntutan profesi dan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Guru sebagai pembelajar menjadikan program peningkatan kompetensi guru menjadi lebih baik, tetapi jika suatu saat seorang pendidik dan pengajar memutuskan untuk berhenti belajar atau tidak mau belajar, maka pada saat itu dia berhenti menjadi seorang guru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »