MEDIA SOSIAL BIKIN ANDA JADI PELUPA

Beijing (wartaonline.co.id) 9/5
Profesor Qi Wang, seorang ahli dalam perkembangan manusia di Cornell University di New York mengatakan bahwa sekarang ini, sebagian besar orang tidak lagi membuat post orisinal untuk diunggah ke media sosial.

“Anda hanya membagikan apa yang Anda baca bersama teman. Tapi mereka tidak sadar bahwa berbagi konten memiliki dampak buruk. Hal ini mungkin akan mengganggu bagaimana kita melakukan hal-hal lain dalam hidup,” kata Wang.

BACA JUGATwitter Harap Aturan Bagi OTT Tidak Jadi PenghambatTanggapan Twitter Soal Aturan BUTIrwansyah Temui Istri Ganjar Pranowo, Mengaku Salah Menurut laporan Daily Mail, Wang dan beberapa rekannya melakukan serangkaian percobaan untuk melihat dampak dari melakukan repost konten pada media sosial. Hasil dari penelitian ini lalu dipublikasikan dalam jurnal Computers in Human Behavior.

Sekelompok murid di Beijing University dibagi menjadi dua kelompok. Mereka lalu diberikan pesan melalui Weibo, media sosial serupa Twitter di Tiongkok. Setelah membaca pesan tersebut, kelompok pertama boleh memilih untuk melakukan repost atau membaca pesan berikutnya. Sementara kelompok yang kedua tidak boleh melakukan repost dan harus langsung membaca pesan berikutnya.

Setelah itu, para partisipan lalu diberikan sebuah tes online mengenai isi pesan yang baru saja diberikan pada mereka. Murid yang berada di kelompok pertama, yang boleh melakukan repost, terbukti sering memberikan jawaban yang salah. Tidak hanya itu, mereka juga terlihat tidak terlalu mengerti isi pesan yang diberikan pada mereka.

“Untuk pesan yang mereka unggah ulang, mereka sulit untuk mengingat pesan di dalamnya,” kata Wang.

Dalam eksperimen kedua, para peneliti diberikan tes untuk menguji pemahaman mereka akan sebuah artikel sains setelah mereka diberikan pesan melalui Weibo. Sekali lagi, terlihat bahwa orang-orang yang diizinkan untuk melakukan repost artikel ke media sosial memberikan performa yang lebih buruk daripada mereka yang hanya diizinkan untuk membaca material yang ada.

Para partisipan juga diminta untuk mengikuti sebuah tes untuk melihat beban yang ditanggung otak mereka. Dan hasil dari pengujian ini adalah kelompok orang-orang yang boleh melakukan repost justru mengalami beban kognitif yang lebih berat.

Wang berkata bahwa hasil dari tes-tes ini seharusnya membuat seseorang ragu untuk melakukan retweet atau memberikan tanda Like akan suatu konten di media sosial. “Dalam kehidupan nyata, ketika seorang murid menjelajah internet dan saling bertukar informasi dan setelah itu dia langsung melakukan ujian, maka performa yang mereka berikan justru akan menurun,” ujar Wang.( Metronews.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »