Kontes Kopi se Indonesia digelar di Banyuwangi

Banyuwangi (wartaonline.co.id) 20/10

Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menjadi tuan rumah pelaksanaan Kontes Kopi Spesialty Indonesia (KKSI) ke-7 yang digelar oleh Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI).

Ketua AEKI Pranoto Soenarto mengatakan kontes kopi ini bertujuan untuk mendorong lahirnya kopi-kopi di Indonesia yang memiliki kekhasan cita rasa dan keunggulan karakteristik.

“Sehingga kopi-kopi asal Indonesia bisa semakin kompetitif di dunia. Lewat kontes di Banyuwangi yang merupakan salah satu produsen kopi di Indonesia ini, kami ingin meningkatkan citra kopi Indonesia di mata internasional,” katanya.

Saat ini, katanya, Indonesia sendiri menempati posisi ketiga sebagai produsen kopi terbesar dunia setelah Brazil dan Vietnam. Namun untuk kualitas Indonesia paling unggul dibanding lainnya.

Indonesia, katanya, saat ini baru memasok 20 persen kopi dunia. Volume produksi kopi Indonesia sebanyak 685.089 ton, di mana sebesar 385.000 ton di antaranya diekspor.

Luas areal kopi Indonesia 1,24 juta hektare dengan produktivitas 741 kilogram per hektare. Adapun devisa yang diperoleh dari ekspor komoditas tersebut sebesar 1,05 miliar dolar AS. “Secara global permintaan kopi terus bertambah. Pasokan kopi pun masih kurang 6 persen. Kami mendorong para petani Indonesia untuk terus menanam kopi sambil terus berupaya meningkatkan kuantitas produksi kopi para petani. Peningkatan kualitas kopi sangat penting karena market di dunia sangat besar. Kita harus bisa bersaing dan bahkan mengalahkan produsen kopi lain, terutama seperti Vietnam,” kata Pranoto seperti dikutip Antara.

Kontes Kopi Spesialty Indonesia (KKSI) di Banyuwangi diikuti oleh 137 sampel kopi yang dikirim dari petani dan perusahaan perkebunan dari seluruh Indonesia. Jumlah itu terdiri atas 76 sampel kopi jenis arabika dan 61 sampel kopi jenis robusta.

Dewan juri terdiri atas ahli dari dalam dan luar negeri. Dua di antara dewan juri tersebut sekaligus importir kopi dari Jerman dan Belanda. Untuk mengikuti lomba ini, petani kopi mengirimkan sampel kopi yang sudah produksi minimal 1 ton. Tujuannya agar bisa melakukan ekspor bila menang.

“Kopi yang terbaik dari kontes ini nantinya akan mendapatkan hadiah uang dan dipromosikan langsung ke luar negeri,” ujar Pranoto.

Salah satu tester kopi nasional yang juga menjadi juri, Setiawan Subekti, mengatakan, ajang yang digelar AEKI bekerja sama dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKKI) ini sebelumnya dipusatkan di Jakarta. Untuk tahun ketujuh ini sengaja digelar di Banyuwangi. “Banyuwangi dipilih sebagai tempat penyelenggaraan kontes kopi nasional karena jadi salah satu daerah penghasil kopi yang memiliki cita rasa khas,” kata Setiawan.

Banyuwangi sendiri memproduksi lebih dari 9.000 ton kopi per tahun. Kopi yang diproduksi terdiri atas 90 persen jenis robusta dan 10 persen jenis arabika. “Banyuwangi juga menunjukkan komitmennya dalam menjadikan kopi tidak hanya sebagai minuman khas daerah, tapi juga identitas daerah dan ikon yang membanggakan,” ujar Setiawan.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan kontes kopi ini selaras dengan upaya Pemkab Banyuwangi yang terus mendorong eksistensi kopi sebagai salah satu identitas daerah. “Kami bangga kontes ini diadakan di Banyuwangi. Ini akan merangsang petani kopi di Banyuwangi untuk ikut menciptakan kopi terbaik,” kata Anas.

Banyuwangi juga menjadikan kopi sebagai bagian dari pengembangan pariwisata daerah. Bahkan kopi telah menjadi oleh-oleh khas yang mulai banyak dicari. “Pariwisata kami kembangkan selaras dengan potensi lokal. Ini juga akan merangsang geliat ekonomi petani dan petani kopi lokal,” ujar Anas.

Anas mencontohkan Festival Ngopi Sepuluh Ewu (Mengopi Sepuluh Ribu Cangkir) yang akan digelar Selasa (20/10) di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Festival tersebut diadakan tiap tahun sejak 2013 untuk mengangkat eksistensi kopi Banyuwangi. Di ajang itu sebanyak 10 ribu lebih cangkir kopi akan disuguhkan kepada wisatawan untuk diminum secara gratis. kbc2/sob

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »