Awas Pendaki gunung semeru saat Turun Tersesat

Lumajang (wartaonline.co.id) 16/8

Anda percaya atau tidak kabar dari sekian banyak pendaki yang tersesat belakangan ini, seluruhnya terjadi saat melalui rute turun dari Puncak Mahameru. Jalur turun dari puncak berketinggian 3.676 meter diatas permukaan laut (mdpl) ini memang kerap membuat jalur pendakian yang ditempuh bergeser.

Ketika hal itu terjadi, maka pendaki dipastikan akan tersesat karena rute turun yang ditempuh melenceng. Ketika pendaki meneruskan perjalanan turun melalui rute yang salah, maka kesalahan rute akan semakin jauh sehingga akan semakin tersesat pula.

“Ibaratnya menuruni pungung tangan. Ketika salah melalui rute sesuai jari yang benar, maka semakin ke bawah akan semakin jauh kesalahan rutenya. Akibatnya pendaki akan semakin tersesat jauh dari rute semula ketika meneruskan turun melalui rute yang salah,” kata Peltu TNI Sugiyono Pelatih Tim SAR Kabupaten Lumajang seperti yang dilaporkan kepada radio Sentral FM, Sabtu (15/8/2015).

Dikatakanya, rute pendakian turun dari Puncak Mahameru kerap membuat pendaki tersesat. Sudah banyak pendaki yang hilang dari rute yang benar, seperti yang dialami pendaki Budiawan, dari Bogor dan terakhir Daniel Saroha yang juga berasal dari kota yang sama.

“Baik Budiawan maupun Daniel Saroha, keduanya melenceng dari rute turun yang seharusnya saat menuruni Puncak Mahameru. Akibatnya, keduanya tersesat. Budiawan tersesat hingga masuk kawasan Blank 75 dan Daniel Saroha ke kawasan Sumbermani. Beruntung, keduanya berhasil ditemukan,” katanya.

Peltu TNI Sugiyono menggambarkan, jika rute pendakian bergeser 1 meter saja, maka pendaki dipastikan akan keluar jalur dan tersesat. Peltu Sugiyono mengibaratkan pendakian turun seperti menuruni punggung tangan, ketika rute salah dari buku jari yang benar, maka semakin ke bawah akan semakin melebar jarak rute yang ditempuh.

“Sebagai upaya antisipasi, sebaiknya pendaki yang sudah mencapai bibir puncak agar memasang tanda. Bisa berupa bendera yang mudah dilihat, daypack, raincoat atau yang lainnya. Sehingga, pendaki bisa menentukan arah turun melalui tanda tersebut. Sebab titik naik harus sama dengan titik turun yang diambil,” ungkapnya.

Pemasangan tanda itu, menurutnya, juga harus jelas, mudah terlihat sekalipun malam hari. Sebab, di sepanjang rute pendakian menuju Puncak Mahameru atau arah turun tidak ada tanda yang bisa dijadikan panduan rute yang benar. “Pemasangan tanda ini, bisa menjadi pemandu untuk memilih rute yang tepat agar tidak tersesat,” ujarnya.

Dulu, ketika Cemoro Tunggal yang menjadi salah-satu ikon pendakian di antara jalur Kalimati menuju Puncak Mahameru belum tumbang pada Tahun 2010 lalu, satu-satunya pohon yang hidup di puncak Semeru tersebut, bisa menjadi alternative pemandu rute yang tepat.

Setelah Cemoro Tunggal tumbang pada Tahun 2010 lalu, semakin banyak pendaki yang tersesat. “Sebagai panduan alam yang bisa menjadi petunjuk rute turun yang benar, saya sarankan pendaki melihat ke sisi timur arah Gunung Kepolo. Gunung Kepolo inilah yang bisa menjadi petunjuk arah rute turun yang tepat,” tuturnya.

Rute yang bisa ditempuh pendaki saat turun dari Puncak Mahameru, harus mengikuti arah Gunung Kepolo. Pendaki harus melihat titik tengah gunung itu, selanjutnya ikuti saja arahnya sebagai rute turun. Maka jalur turun akan pas mengarah ke Kalimati.

“Pendaki harus menjadikan Gunung Kepolo sebagai kompas alam. Sebab di depan Gunung Kepolo atau arah selatan Gunung Kepolo adalah Kalimati. Dari atas, shelter di Kalimati terlihat kok. Pendaki butuh ketelitian untuk itu. Saran terakhir, pendaki harus kompak bersama-sama dan saling menjaga, maka tidak akan tersesat,” pungkas Peltu TNI Sugiyono. (her/tok/sob)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »