Produk Thailand bakal serbu Indoensia

Surabaya (wartaonline.co.id) 29/3

Sama seperti Indonesia, Thailand saat ini juga menyiapkan diri dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Beragam produk kususnya dari sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) juga terus dipermak sehingga mampu bersaing dengan negara ASEAN lainnya.

Bedanya, jika pelaku UMKM di Indonesia mayoritas belum siap, namun di Thailand mereka sudah tak sabar untuk segera menggelontor produk mereka ke negara tetangga.

wartawan , yang berkesempatan mengunjungi Kantor Kementerian Perdagangan Thailand di Bangkok mendapati jika kementerian ini bahkan memiliki departemen tersendiri yang khusus untuk menghadapi MEA.

“Seluruh persiapan AEC (ASEAN Economic Community), digodok dan dipersiapkan di sini,” kata Tipasuk Jaratjassada, Trade Officer Senior Profesional Level di Departement of Trade Negotiation, Jumat (29/3/2015).

Departemen ini juga memberikan berbagai pelatihan bagi UMKM serta membantu memasarkan produk UMKM ke negara-negara ASEAN.

Aneka produk unggulan juga di setting dan dipermak di departemen ini. “Satu daerah harus ada satu produk andalan, dan ini kami siapkan dengan matang,” ujarnya.

Sayangnya dengan alasan kerahasiaan, dia enggan merinci nilai ekspor impor yg ada di negara ini. Dia hanya mengatakan jika produk UMKM Thailand sangat besar karena mencapai 10 juta dengan jumlah pelakunya mencapai 30 juta orang.

“Separuh penduduk Thailand saat ini fokus di UMKM, mereka kini giat dan terus berproduksi,” kata dia.

Selain UMKM, saat ini Thailand juga sedang fokus menggarap sektor pertanian khususnya beras dan coklat. Mereka yakin, dua komoditi ini akan bisa bersaing karena mereka telah menemukan cara bagaimana beras dan coklat bisa mendunia dengan harga yang lebih murah.

“Saat ini beras Thailand sudah merajai kawasan Nigeria,” ujarnya. Dia hanya berharap antara Thailand dan Indonesia segera melakukan negosiasi karena dia merasa Thailand sudah tidak sabar memasukkan barangnya ke Indonesia.

Apalagi, produk dari Thailand saat ini sudah menumpuk yang tak mungkin dikonsumsi penduduknya yg hanya 67 juta atau hanya dua kali dari penduduk Jawa Timur.

“Kami sangat senang dengan AEC, kami sudah tak sabar karena tidak mungkin produk kami yang melimpah bisa diserap penduduk kami yang kecil,” kata dia.

Untuk konteks MEA sendiri, Thailand sebenarnya mengaku masih mewaspadai Vietnam dan Kamboja karena tenaga kerja di dua negara ini sangatlah murah. Karenanya, Thailand saat ini sedang merumuskan bagaimana menyiasati upah kerja yang tinggi namun produknya tetap murah dan berkualitas. (fik/dop/rst)

Editor: Restu Indah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »