Presiden Singapura lee kuan yew wafat dini hari

Surabaya (wartaonline.co.id) 23/3

Meninggalnya Lee Kuan Yew bisa jadi peluang bagi Indonesia untuk berbicara lebih terbuka terkait hubungan Indonesia-Singapura yang selama ini buntu, misalnya soal ekstradisi.

Djoko Susanto Dosen Hubungan Internasional Unair seperti yang di kutif dari¬† Radio Suara Surabaya mengatakan, Lee adalah sosok yang sangat keras, “Ada beberapa pembicaraan bilateral yang buntu, di sini mungkin kita akan mendapat kesempatan untuk membahasnya,” kata dia.

Menurut Djoko, Singapura akan sulit mendapatkan pemimpin se kaliber Mr Lee. “Mereka tidak akan pernah melampaui tingkat senioritas yang dicapai Lee Kuan Yew. Siapapun penggantinya, dia tidak akan mempunyai orang yang kuat, dan keras seperti dia,” kata pengamat hubungan Internasional ini.

Keistimewaan Lee Kuan Yew, walaupun sama dengan pendiri bangsa dunia ketiga pada umumnya yang terjebak dalam otoritarisme, namun Lee bisa keluar dari jebakan itu. Lee dinilai mampu melahirkan Singapura yang bersih dalam taraf tertentu dan efisien, meski otoriter.

Lee Kuan Yew berhasil membuka mata atau setidaknya memaksa dunia untuk melihat sisi lain dari otoritarianisme Singapura. Yakni Singapura yang bersih, stabil dan yang mampu membuat dunia kagum sekalipun Singapura waktu itu baru mulai merdeka.

Lee juga mempelopori sebuah model yaitu proses transisi secara tertuntun. Lee mundur dari menteri senior untuk mengawal proses transisi. Meski Lee dicemooh dunia barat namun Lee yakin transisi ini memberi kesempatan bagi orang muda untuk ikut memimpin Singapura.

Saat ini, PR terbesar bagi penerus Lee Kuan Yew, kata dia, adalah bagaian membuktikan kepada dunia bahwa Lee Kuan Yew tidak hanya meninggalkan personalitas tetapi sebuah sistem. Sistem inilah yang akan tetap berjalan, meski Lee sudah tiada. (dwi/rst/sob)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »