Gubernur Jatim Tak setuju Hapus Tiket pesawat murah

SURABAYA-wartaonline.co.id.com (14/1/2015)

Gubernur Jawa Timur Dr. H Soekarwo tidak setuju terhadap rencana Kementerian Perhubungan (Kemenhud) menghapus tarif murah di dunia penerbangan, sebab bisa berpengaruh terhadap perekonomian suatu daerah, dan dunia pariwisata di Indonesia.
“Saya tidak setuju kalau dihapuskan,” kata Gubernur Jawa Timur Soekarwo kepada wartawan di gedung Negara Grahadi Selasa (13/1/2015).
Menurut Soekarwo penerbangan memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap perkembangan industri pariwisata. Wisatawan dari luar negeri atau antar pulau jelas naik pesawat. Jika tariff murah penerbangan dihapus, maka industry wisata dan pendukungnya akan terpengaruh.
Karena perannya yang besar itulah, Jatim akan membangun lapangan terbang perintis di Bojonegoro, dan Kabupaten Blitar. Membuka kembali penerbangan ke lapangan terbang (Lapter) Trunojoyo di Pamekasan. Mempercepat penyelesaian pembangunan bandara di pulau Bawean, serta mengoptimalkan bandara Notonegoro di Jember yang sekarang vakum.
“Saya melihat ada pengaruh lansung industri penerbangan dengan pertumbuhan ekonomi,” kata Soekarwo.
Soekarwo memberikan contoh, ketika Bandara Abdurrahman Saleh dibuka kembali untuk umum. Wisatawan yang datang ke Malang meningkat. Ketika penerbangan langsung ke Bandara Blimbingsari Banyuwangi dibuka, wisatawan ke Banyuwangi naik lebih dari 200 persen. Banyak rombongan wisatawan yang carter pesawat ke Banyuwangi karena belum ada penerbangan lamgsung kesana.
Dulu, jelas H Soekarwo, Pemerintah memberi subsidi pada Merptai sebagai penerbangan perintis dan PT Pelni dengan kapal perintisnya. Namun sekarang banyak penerbangan murah dengan menekan biaya lain. Seperti tidak adanya makan atau minum selama dalam penerbangan.
Karena itu, pihaknya mengusulkan agar tiket murah dapat tetap diberlakukan, sebab menyangkut interconenting daerah satu dengan lainnya. Bahkan, untuk distribusi logistik sangat diperlukan , sebab tidak mungkin mengirim barang dengan biaya mahal.
Dia memberi contoh, ketika pengusaha Jatim ke Makasar tidak mungkin mengirim contoh jagung lewat internet, tapi harus dibawa ke makasar bersama pengusahanya.
“Indonesia masih seperti itu, kalau tiket murah dihapus pengusaha kecil berfikir ulang untuk bisnis ke daerah lain,” jelas Soekarwo.(din/sob).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »