Pengamat Mawardi : Jokowi- JK Mulai Panik

Surabaya (wartaonline.co.id) 23/6

Banyaknya dukungan Prabowo, sehingga Semakin dikenalnya psasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa di kalangan masyarakat. Sejumlah survei menjelang pemilihan suara pemilu presiden 9 Juli elektibitas Prabowo semakin meningkat di banding sebelumnya, sehingga membuat kubu Joko Widodo-Jusuf Kalla mulai panik.

Isu pelanggaran hak asasi manusia (HAM) 1998 yang di duga  dilakukan Prabowo menunjukkan seriusnya kubu Jokowi-JK menghadapi peningkatan elektabilitas sang rival.

“Ini pertanda kepanikan dari tim sukses Jokowi-JK. Mereka melihat ada kecenderungan elektabilitas Jokowi-JK turun, sesuatu yang terpaksa tidak pernah dibuka akhirnya dibuka,” kata pengamat politik Universitas Islam Negeri Surabaya, Ahmad Imam Mawardi.

Isu pelanggaran HAM 1998 oleh Prabowo benar-benar menjadi komoditas politik. “Ini karena tidak ada lagi yang bisa digempur pada Prabowo kecuali isu ini. Kenapa dulu saat Prabowo berpasangan dengan Megawati pada pemilu 2009 isu ini tak sekeras sekarang? Itu karena Mega dan Prabowo tak akan menang. Kalau sekarang, kemungkinan Prabowo menang cukup besar,” kata Mawardi.

Publik bisa melihat bahwa isu tersebut hanya mengandung motif politik, bukan motif membuka pelanggaran HAM. “Kalau demi HAM, kenapa tidak dibuka dari dulu? Apalagi Prabowo tidak terbukti sebagaimana dituduhkan,” kata Mawardi.

Tujuan dihembuskannya isu pelanggaran HAM ini sebenarnya tak lepas dari upaya kubu Jokowi-JK menggaet pemilih yang bimbang (swing voter). Namun masalahnya, lanjut Mawardi, swing voter adalah kelas menengah teredukasi. Mereka memiliki cara pandang kritis terhadap isu tersebut.

“Justru yang terjadi adalah blessing in disguise bagi Prabowo. Posisi Prabowo semakin aman. Kini tinggal bagaimana tim sukses Prabowo-Hatta menanggapi isu ini. Saya melihat, mereka tidak emosional dalam menanggapi isu ini,” kata Mawardi.

Selain kontraproduktif dalam memikat pemilih kelas menengah yang bimbang, isu tersebut justru menjauhkan dukungan keluarga TNI-Polri terhadap Jokowi-JK. Menurut Mawardi, keluarga militer yang punya hak pilih justru akan memilih Prabowo-Hatta.

Mawardi menyesalkan lebih gencarnya pertarungan isu dan ditra daripada program kerja dalam pemilu presiden kali ini. “Orang akhirnya capek, karena yang diomongkan itu-itu saja, masalah HAM. Dikira bakal bisa meruntuhkan lawan politik, ternyata tidak,” katanya. [wir/sob]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »