Tarif Listrik Industri Mulai Naik Pelaku Industri Menjerit

Surabaya (wartajatim.com) 1 /5

Disyahkan tentang  kenaikan Tarif Tenaga Listrik (TTL) golongan industri, pengusaha manufaktur hanya mampu menjerit dan mengeluh pada Kementerian Perindustrian.

Sebab mulai 1 Mei, TTL tanpa bisa ditawar lagi harus naik dan akan terus akan naik hingga 4 kali dalam tahun 2014 ini.

Dirjen Basis Industri Manufaktur Kemenperin, Harjanto, mengakui pihaknya sedikit “kecolongan” saat DPR RI menyetujui adanya kenaikan TTL untuk industri I3 dan I4. Kini kantor Dirjen Basis Industri Manufaktur “penuh” dengan surat keluhan dan keberatandari hampir semua industri manufactur yang merasa terbebani jika TTL terus dinaikkan.

“Saya tidak ingat jumlah pengaduan yang masuk ke kantor kami, yang pasti hampir sebagian besar industri mengeluh dan bersiap-siap menaikkan harga produknya,” ungkap Harjanto, Rabu (30/4/2014).

Salah satu contoh industri soda yang 60 persen produksinya menggunakan listrik, jika TTL naik mau hampir dipastikan harga produknya akan naik 40 persen.

“Jika sudah begini, maka industri hilir akan lebih suka membeli produk bahan baku dari luar negeri alias impor. Dan ini jelas bukan sesuatu yang kami rekomendasikan dan membuat perekonomian kita tergantung pada luar negeri,” beber Harjanto.

Lalu apa yang bisa dilakukan oleh Kemenperin?. Harjanto mengaku pihaknya hanya mampu memberikan stimuln-stimulan kecil untuk industri hulu manufactur seperti menggratiskan biaya pelatihan karyawannya, hingga keringanan penggunaan PPN untuk produk dalam negeri yang akan diekspor maupun yang diedarkan dalam negeri.

“Langkah ini memang tak signifikan mampu mengurangi beban produksi tetapi setidaknya mampu membuat pengusaha tetap bersemangat,” aku Harjanto.

Sementara Benny Marbun, Kepala Divisi Niaga PT PLN (Persero) di tempat terpisah membenarkan, jika kenaikan TTL untuk industri kelas 3 dan 4 yang akan segera diberlakukan 1 Mei sudah harga mati dan sudah jelas keputusannya.Dimana esok pagi sedikitnya akan ada 61 pelanggan dari kelas industri dengan menggunaan listrik 30 MVA yang akan mengalami kenaikan TTL hingga 13,3 persen. Dari 61 perusahaan itu, 15 perusahaan besar itu ada di Jatim.

“Sedangkan industri kelas 3 dengan pengunaan listrik diatas 200 KVA ada 11 ribu jumlahnya secara nasional tetapi hanya 2.095 perusahaan Tbk saja yang mengalami kenaikan hingga 8,63 persen. Sisanya yang belum jadi perusahaan Tbk belum ada aturan baru dari pemerintah jadi untuk sementara masih aman,” jelas Benny saat berkunjung ke kantor PLN Distribusi Jatim, Rabu (30/4/2014).

Tak hanya industri kelas 3 dan 4 saja yang akan mengalami kenaikan, pelanggan kelas Bisnis pun akan mengalami sedikit penyesuaian TTL mulai dari Bisnis menengah hingga besar yang menggunakan listrik dengan daya 6.600 VA hingga 200 KVA. Kantor pemerintah yang memiliki daya 6.600 VA hingga 200 KVA juga tak luput dari penyesuaian TTL.

“Bahkan kelas rumah tngga pengguna daya 2.600 VA ke atas juga akankami lakukan penyesuai TTL. Sebenarnya hal ini sudah tuntas 2013 lalu, namun karena adanya kenaikan kurs dollar terhadap rupiah serta harga minyak mentah serta inflasi yang tinggi maka penyesuaian ini harus kami lakukan,” tegasnya.

Ketika ditanya apakah industri kela 3 dan 4 ini sudah melayangkan keberatannya dan permintaan keringanan pembayaran TTL ke pihak PLN, Benny mengaku hingga kini para pengusaha belum ada yang melayangkan keluhannya ke PLN.

“Justru mereka mengeluhnya di media massa. Kalau pun mereka mengeluh kepada kami, kami pun akan mengarahkannya ke pemerintah sebagai pembuat kebijakan. Namun yang pasti, pengusaha maupun masyarakat harusnya melihat kenaikan ini sebagai hal yang positif, karena dengan begini, subsidi yang setiap tahun diberikan pemerintah untuk konsumen PLN menjadi berkurang dan uangnya bisa digunakan untuk rakyat langsung,” kata Benny.

Ditambahkan, pada tahun 2013 lalu saat ada kenaikan TTL bertahap hingga 4 kali dalam setahun, subsidi negara untuk konsumen PLN menurun menjadi Rp 101 Triliun dan di 2014 dengan adanya penyesuai dan kenaikan TTL ini subsidi bisa turun hingga Rp 83 Triliun.

“Seharusnya subsidi listrik memang untuk masyarakat miskin yang hanya mampu menggunakan listrik dengan daya 450 VA. Itu baru subsidi tepat sasaran, seharusnya mulai sekarang kita harus sadar menempatkan subsidi ke tangan yang benar,” tandasnya.[rea/sob]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »