Semen Indonesia Tetap jadi Market leader Semen Terkini

Jakarta (wartaonline.co.id) 11/5

PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (“Perseroan”) merupakan salah satu perusahaan terbesar perusahaan persemenan di Indonesia.  Untuk menjadi market leader di bidnag persemenan kini  terus memantapkan diri untuk mewujudkan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Grup Semen Indonesia yang terdiri dari Semen Padang, Semen Tonasa, Semen Gresik, dan Thang Long Cement Vietnam telah menyiapkan strategi terpadu dalam menhadapi pasar Internasional.

” strategi yang kami jalankan, ingin memastikan percepatan pertumbuhan bisnis keberlanjutan. Perseroan optimistis tetap tampil sebagai market leader di industri semen nasional, bahkan mengembangkan pasar di luar negeri,” ujar Direktur Utama Semen Indonesia, Dwi Soetjipto melalui siaran persnya.

Hingga kuartal I/2014, lanjut Dwi, perseroan memimpin penguasaan pasar (market share) semen nasional sebesar 43,8 persen dengan mencatat penjualan sebesar 6,2 juta ton, meningkat 3,5% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 5,9 juta ton. Pendapatan sebesar Rp 6,2 triliun, meningkat 11,4 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp5,5 triliun. Laba bersih sebesar Rp1,3 triliun atau tumbuh 5,3 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,2 triliun.

Menurut Dwi, sepanjang kuartal I/2014, Perseroan mencatat penjualan sebesar 6,2 juta ton, meningkat 3,5% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 5,9 juta ton. Pendapatan tercatat sebesar Rp 6,17 triliun, meningkat 11,43 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp5,54 triliun dan laba bersih tercatat sebesar Rp1,3 triliun atau tumbuh 5,3 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,23 triliun.

Dwi Soetjipto menjelaskan, pasar semen ke depan akan terus bertumbuh. Dengan asumsi pertumbuhan 6 persen per tahun, konsumsi semen pada 2017 diprediksi akan menembus 73,55 juta ton dibanding posisi 2013 di kisaran 58 juta ton. “Jika tak ada penambahan kapasitas, dikhawatirkan terjadi shortage semen pada masa mendatang yang akan menghambat pembangunan nasional. Dengan prospek seperti itu, industri semen menempati posisi strategis dan Perseroan mengantisipasi peluang ini dengan menerapkan perpaduan strategi mulai dari hulu sampai hilir,” kata Dwi Soetjipto.

Salah satu strategi utama, imbuh Dwi, adalah peningkatan kapasitas dengan penambahan kapasitas (upgrading) pada pabrik-pabrik yang telah beroperasi (existing plant) dan pembangunan pabrik baru. Saat ini Perseroan tengah membangun pabrik baru di Jawa Tengah dan Sumatera Barat yang masing-masing berkapasitas 3 juta ton.

Strategi lainnya, kata Dwi, dilakukan dengan mengakuisisi perusahaan semen maupun menjajaki potensi kemitraan melalui pembentukan perusahaan patungan (joint venture). Dengan perpaduan strategi tersebut, Perseroan menargetkan kapasitas produksi mencapai 40,8 juta ton pada 2017.

Dwi menuturkan,perseroan juga menggelorakan inovasi yang dapat meningkatkan efisiensi, termasuk pengamanan kebutuhan energi dengan melakukan kontrak jangka panjang batubara dan pengelolaan lahan tambang batubara secara mandiri melalui anak Perusahaan PT SGG Energi Prima.

“Di setiap pabrik baru akan dilengkapi dengan power plant, sehingga bisa efisien dan dapat menekan biaya energi. Misalnya, di Pabrik Tonasa V di Sulawesi Selatan yang dilengkapi dengan power plant 2 x 35 MW, pembangkit listrik terbesar yang pernah dibangun terintegrasi dengan industri semen,” jelas Dwi Soetjipto.

Menurut Dwi, perseroan menyelaraskan penerapan strategi pengembangan jangka panjang ke dalam kegiatan jangka pendek melalui empat fokus pengelolan strategi, yaitu revenue management, cost management, capacity management, dan increasing competitive advantage; untuk mendukung percepatan pertumbuhan.

Lebih jauh Dwi menjelenterehkan, kinerja perseroan kuartal I/2014 meningkat. EBITDA mencapai Rp1,95 triliun, meningkat periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,86 triliun. EBITDA margin sebesar 31,61 persen. Adapun net income margin sebesar 21,1 persen, menunjukkan konsistensi Perseroan dalam menciptakan profitabilitas optimal di tengah makin ketatnya kompetisi dan kenaikan beban usaha. Perseroan juga mencatat, return on assets masih cukup tinggi, yaitu sebesar 17,4 persen, menunjukkan kemampuan dalam menjaga profitabilitas.

Ke depan, papar Dwi, dengan strategi dan kebijakan finansial serta struktur modal yang terukur, perseroan yakin bisa menyeimbangkan antara kebutuhan ekspansi untuk memenuhi kebutuhan pasar semen dan arus kas yang tetap sehat.(nik/sob)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »