Produksi Gula Di Pulau Jawa Masih Dominan

SURABAYA (warta online.co.id) 28/5

 Meskipun peranan luar Jawa khususnya Lampung dalam menghasilkan gula semakin penting dan meningkat dari tahun ke tahun, namun Jawa masih tetap memiliki peran strategis dalam keseluruhan konstelasi sistem produksi.

Senior Advisor  Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi) AdigB Suwandi mengatakan secara nasional, produksi gula  hasil penggilingan tebu sebanyak 35,57 juta ton dari areal budidaya seluas 470.198 hektar pada giling 2013 lalu mencapai  2,55 juta ton.  Prpoduktivitas  per hektar tercatat 5,4 ton hablur  dengan komponen berat tebu 75,6 ton dan rendemen 7,18.

Data olahan Asosiasi Gula Indonesia (AGI) menyebutkan, dari produksi tersebut, Jawa memberikan kontribusi 1,61 juta ton dengan total tebu tergiling 23,69 juta ton dani luas  areal panen 304.333 hekktar.  Produktivitas habiur 5,3 ton per hektar dengan komponen berat tebu 77,5 ton dan rendemen 6,84 persen.  Sebagian besar pabrik gula (PG) di Jawa mengandalkan pasokan tebu dari petani yang menjalin kemitraan.

Sedangkan luar Jawa  menghasilkan 937.000 ton gula dari aktivitas penggilingan tebu sebanyak 11,93 juta ton yang diperoleh melalui  areal tertebang 165.198 hektar,  sebagian besar merupakan tebu sendiri dari lahan hak guna usaha.  Produktivitas hablur per hektar luar Jawa 5,6 ton dengan komponen berat tebu 71,9 ton dan rendemen 7,86 persen.

“Produksi tadi sedikit lebih rendah dibanding 2012 yang mencapai 2,59 juta ton meskipun terjadi peningkatan areal dan jumlah tebu giling,” kata Adiq.

Tebu tergiling tahun 2012 mencapai 31,89 juyta ton dan luas areal 451.191.   Peningkatan areal dan jumlah tebu musim tanam 2012/2013 antara lain disebabkan membaiknya harga guila sepanjang masa giling 2012 sehingga petani lebih termotivasi untuk menanam tebu lebih prima, baik melalui penerapan praktek budidaya terbaik (best agricultural practices) maupun ekspansi areal.

Membaiknya agroklimat memungkinkan pembentukan rendemen melalui fotosintesis berjalan optimal berdampak positip bagi peningkatan produktivitas.  Manajemen tebang-angkut pun berjalan lancar.   Kondisi ini berbeda dengan masa giling 2013 yang ditandai hujan berkepanjangan bahkan berlangsung hingga medio Agustus.

 Pelaksanaan tebangan berbanding terbalik dengan kondisi 2012.  Beban petani bertambah menyusul meningkatnya biaya kebun dan tebang-angkut, pada saat bersamaan diperparah terus menurunnya harga lelang gula pada level petani.   Harga rata-rata  lelang  gula sepanjang 2013 turun drastis dari Rp 10.166 pada bulan Mei menjadi hanya Rp 8,671 per kg pada bulan Desember 2013.

Harga yang kurang menguntungkan prediksi mereduksi animo petani  dalam meningkatkan produksi, bahkan areal pengusahaan tebu berpotensi turun.  Petani hanya mempertahankan keprasaan yang ada dan sangat sedikit melakukan perluasan areal.  Luas areal tebu di Jawa diperkirakan turun sekitar 6 persen sehingga menjadi 282.000 hektar dan secara nasional sekitar 447.000 ton.

Agroklimat yang lebih baik diharapkan mampu meningkatkan produktivitas tebu dan rendemen.  Khusus untuk rendemen, potensial  lebih tinggi dari realisasi 2013 walaupun tidak setinggi 2012 lalui.  Capaian rendemern diestimasi sekitar 8,08 persen atau naik 0,9 point dibanding 2013.  Perubahan agroklimat menjadi ekstrim atau kering selama panen bisa mengubah peta produksi gula dimaksud.

Pabrikan gula dan petani tebu berharap pemerintah dapat bertindak tegas terhadap rembesan gula rafinasi yang masuk ke pasar eceran dan diperlakukan sebagai gula konsumsi seingga menjadi kompetitor tidak sehat dengan gula lokal.  Pengenadlian stok menjadi urgen untuk menciptakan harga gula petani yang kompetitif.  Masalahnya, harga gula dunia yang selama ini jadi referensi pedagang stabil rendah.

Menurut Adig  Suwandi  harga untuk pengapalan Mei 2014 di London hanya USD 470-USD 480 per ton FOB (harga di negara asal, belum termasuk biaya pengapaan dan premium) seingga potensial berdampak kurang menguntungkan bagi terbentuknya harga gula lokal selama giling nanti tidakl ada pengendalian secara efektif, antara lain dengan mencegah rembesan gula rafinasi.(din)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »