Kebutuhan Rumah Tinggal Belum Terpenuhi

SURABAYA-wartaonline.co.id (29/5)
Kebutuhan Rumah tinggal hingga kini masih belum terpenuhi, hal ini di ungkapkan oleh ketua Dewan pengurus Daerah (DPD) Real Estat Indonesia (REI) Jawa Timur , Ir. H. Erlangga Satriagung.
“Sampai kiamat kebutuhan rumah tak akan  terpenuhi,” kata ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Real Estat Indonesia (REI) Jawa Timur (Jatim) Ir. H Erlangga Satriagung ketika ditemui sekretraiat REI Jatim.
Mengapa tidak terpenuhi? Menurut Ir. H Erlangga karena kebijakan pemerintah dibidang perumahan selalu berubah-ubah, dan tidak pro pengembang.
Dijelaskan, kekuarangan rumah di Jatim sekitar 550 ribu unit. Setiap tahun kekurangan it uterus bertambah. Karena jumah penduduk Jatim, dan yang membutuhkan rumah juga bertambah. Baik rumah tipe besar, atau rumah tipe kecil.
Biasanya mereka yang baru berumah tangga, atau rumah tangga muda, membeli rumah tipe kecil. Misalnya Rumah Sejahtera Tapak (RST). Ada juga yang membeli rumah tipe sedang. Namun yang membeli tipe besar jarang sekali.
Kebijakan pemerintah, khususnya Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) selalu berubah-ubah. Ketika Kemenpera dipimpin oleh  Suharso Monoarfa, meloncurkan kebijakan yang disebut Fasilitas Likuiditan Pembangunan Perumahan (FLPP).
Disini pemerintah tidak harga rumah, tapi mengatur besarnya bunga Kredit Perumahan Rakyat (KPR). Sedangkan besarnya bunga KPR sesuai  dengan besarnya KPR yang diambil. Makin besar KPR yang diambil, makin besar bunga yang dibayar. Makin besarnya KPR yang diambil,  makin murah bunganya.
Namun ketika Menpera digantikan oleh Drs. Djan Faridz, pemerintah Bungan hanya mengatur besarnya bunga KPR, tapi juga harga rumah. Untuk RST maksimal harganya Rp 70 juga, dengan tipe 36.  Kebijakan ini membuat pengembang kelimpungan, dan ribuan RST tidak terjual. Ini karena pengembang sudah membangun RST berbagai tipe. Misalnya tipe 30 dan 27. Harganyapun bervariasi. Ada yang Rp 60, ada ada yang Rp 80 juta.
Menurut Ir. H Erlangga, ketika mempera mematok harga Rp 70 juta, dan harus tipe 36, membuat pengembang kelimpungan. Karena yang harganya tidak sebesar itu, tidak bisa menikmati KPR bersubsidi atau KPR FLPP. Ribuan RST di Jatim tidak dijual oleh pengembang karena rugi, masyarakat juga menunda membeli rumah.
DPP REI Jatim  optimistis pasca terbitnya peraturan Menteri Perumahan Rakyat (Permenpera) nomor 3 dan 4 tahun 2014 yang mengatur tentang revisi harga jual rumah sejahtera tapak (RST) dan rumah susun milik (rusunami), bakal membuat pasokan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) bisa kembali meningkat.
Keputusan Mempera tersebut jelas Elangga sudah tepat, dan memberikan kepastian kepada masyarakat untuk membeli rumah bersubsidi sesuai harga patokan pemerintah. Sedangkan pengembang bisa kembali melanjutkan pembangunan rumah murah.
“Kami berikan apresiasi dan ini sebuah terobosan baru. Harga jual RST dan rusunami berbeda-beda di setiap provinsi. Hal itu, bisa menjaga konsistensi pasokan. Kenyataan dilapangan memang harga RST dan rusunami sesuai dengan harga indeks konstruksi setempat dan daya beli masyarakat,” jelas Erlangga.
REI Jatim sendiri tahun ini akan membangun RST sekitar 20 ribu unit. Pembiayaan sendiri akan dilakukan melalui KPR FLPP. Namun bila tidak terserap seluruhnya oleh KPR FLPP karena kemampuan pemerintah yang terbatas, maka sisanya akan dijual melalui KPR non-subsidi sesuai dengan mekanisme bunga bank komersial. Karena kemampuan memberikan subsidi KPR FLPP untuk sekitar 59 ribu unit.(din/sob)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »